• Hama Kota atau Sahabat Manusia? Dinamika Kucing di Perkotaan dari Perspektif Lingkungan, Psikologi, dan Budaya Masyarakat

    COLUMN


     

    Hama Kota atau Sahabat Manusia? Dinamika Kucing di Perkotaan dari Perspektif Lingkungan, Psikologi, dan Budaya Masyarakat

    Di tengah hiruk-pikuk kota, kucing liar dan peliharaan membentuk dinamika unik yang tak lepas dari interaksi manusia. Bagi Fachry, mereka adalah sahabat setia yang membawa kenyamanan emosional, sementara bagi yang lain, mereka dianggap sebagai hama yang mengganggu ekosistem perkotaan. Dari perspektif lingkungan, psikologi, dan budaya masyarakat, keberadaan kucing di kota mencerminkan hubungan kompleks antara manusia dan alam, membuka perdebatan tentang peran mereka dalam keseimbangan ekologi serta cara terbaik untuk hidup berdampingan.

       words : atmospherenetwork

    Column

    09.03.2025

    Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia dan perkembangan infrastruktur perkotaan, wajah kota mengalami perubahan yang signifikan. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang semakin padat, serta laju urbanisasi yang pesat menjadikan kota sebagai ekosistem yang semakin kompleks. Di tengah dinamika ini, berbagai makhluk hidup turut berkembang berdampingan dengan manusia, salah satunya adalah kucing. Populasi kucing mengalami peningkatan yang pesat, terutama di perkotaan, di mana mereka sering kali hidup di jalanan sebagai kucing liar.

    sumber : Google.com

    Di satu sisi, kucing dianggap sebagai hewan yang lucu dan menggemaskan, serta banyak dipelihara oleh masyarakat. Namun, di sisi lain, kucing sering dipandang sebagai hama kota yang mengganggu kebersihan dan keseimbangan lingkungan. Beberapa pihak bahkan menganggapnya sebagai penyebab berbagai masalah, seperti sampah yang berserakan akibat pencarian makanan, penyebaran penyakit, hingga pertumbuhan populasi yang tidak terkontrol. Hal ini memunculkan dilema di masyarakat antara mereka yang peduli dan mereka yang menganggap kucing sebagai ancaman bagi lingkungan kota.

    Peningkatan Populasi Kucing dan Tanggung Jawab Pemerintah

    Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, pada tahun 2022 populasi kucing di wilayah tersebut mencapai 22.178 ekor. Angka ini terus meningkat seiring dengan kurangnya pengendalian populasi dan meningkatnya jumlah kucing liar di jalanan. Pertumbuhan yang tidak terkendali ini dapat memengaruhi kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini, bukan hanya mengandalkan komunitas atau individu pecinta kucing.

    sumber : Google.com

    Langkah-langkah yang dapat diterapkan oleh pemerintah antara lain:

    Program sterilisasi massal pemerintah dapat bekerja sama dengan komunitas pecinta hewan untuk melakukan sterilisasi kucing liar guna mengontrol pertumbuhan populasi. Pembangunan Shelter kucing kota dapat menyediakan tempat penampungan bagi kucing liar yang terlantar agar tidak mengganggu area publik. Edukasi dan kampanye peduli kucing masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa kucing juga memiliki hak untuk hidup dan tidak boleh diperlakukan dengan kejam. Regulasi dan penegakan hukum peraturan yang melindungi kucing harus ditegakkan dengan lebih ketat agar tidak ada lagi kasus kekerasan terhadap hewan yang diabaikan. Tanpa adanya kebijakan yang serius dari pemerintah, populasi kucing akan terus meningkat dan menjadi permasalahan sosial yang lebih besar di masa depan.

    Dampak Kucing terhadap Kesehatan Mental dan Psikologi Manusia

    Keberadaan kucing di lingkungan kota tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memiliki peran besar dalam kesehatan mental manusia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan kucing dapat membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Aktivitas sederhana seperti mengelus kucing atau bermain dengannya dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin, yang membantu meningkatkan rasa bahagia dan mengurangi ketegangan emosional.

    Kucing juga sering menjadi teman bagi individu yang merasa kesepian atau mengalami masalah psikologis. Dalam beberapa kasus, terapi dengan kucing telah digunakan untuk membantu individu dengan gangguan kecemasan, depresi, hingga kondisi seperti autisme. Keberadaan kucing di rumah atau bahkan di lingkungan umum dapat memberikan rasa ketenangan dan kebersamaan bagi banyak orang.

    Kasus Kekerasan terhadap Kucing dan Peraturan di Indonesia

    Di Indonesia, kasus kekerasan terhadap kucing masih sering terjadi. Misalnya, pada tahun 2021 di Surabaya, seorang individu tertangkap CCTV menendang kucing hingga mati. Kasus lain terjadi di Jakarta, di mana beberapa kucing liar sengaja diracuni oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sayangnya, tindakan seperti ini sering kali tidak mendapatkan sanksi yang setimpal.

    sumber : Google.com

    Dalam aspek hukum, Indonesia sebenarnya memiliki peraturan terkait perlindungan hewan. Pasal 302 KUHP menyatakan bahwa siapa saja yang menyiksa atau membunuh hewan dengan sengaja dapat dikenakan hukuman pidana berupa kurungan hingga 3 bulan atau denda. Jika tindakan tersebut bersifat berat dan menyebabkan kematian, hukuman bisa meningkat menjadi 9 bulan kurungan. Namun, lemahnya penegakan hukum membuat kasus kekerasan terhadap hewan masih sering terjadi.

    Budaya Memberi Makan Kucing Liar dan Dampak Positifnya

    Di banyak kota di Indonesia, budaya memberi makan kucing liar semakin berkembang. Banyak orang yang dengan sukarela membawa makanan kucing di tas mereka untuk diberikan kepada kucing-kucing yang mereka temui di jalan. Budaya ini mencerminkan rasa empati dan kepedulian masyarakat terhadap makhluk hidup lainnya. Selain itu, kebiasaan ini juga membantu kucing liar tetap sehat dan mengurangi risiko mereka mencari makanan di tempat-tempat yang kurang higienis.

    Belajar dari negara lain

    Di berbagai belahan dunia, komunitas pecinta kucing memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan kucing serta mempererat hubungan antarpenyayang hewan berbulu ini. Beberapa komunitas internasional yang telah dikenal luas antara lain Catster”, sebuah platform jejaring sosial bagi para pecinta kucing; The International Cat Association (TICA) dan Cat Fanciers’ Association (CFA), yang fokus pada registrasi dan pelestarian ras kucing serta Alley Cat Allies, organisasi advokasi yang aktif dalam memperjuangkan hak kucing liar melalui program Trap-Neuter-Return (TNR). Selain itu, ada pula International Society for Feline Medicine (ISFM), yang berperan dalam meningkatkan standar kesehatan kucing secara global dengan memberikan edukasi kepada para profesional di bidang kesehatan hewan.

    sumber : Google.com

    Di Indonesia, komunitas pecinta kucing juga berkembang pesat dengan berbagai organisasi yang aktif dalam perlindungan dan kesejahteraan kucing, baik ras maupun domestik. Beberapa komunitas yang cukup dikenal di antaranya adalah Save Love Cat (SLC), yang bergerak dalam penyelamatan kucing jalanan; Indonesian Cat Association (ICA), yang sering mengadakan kontes kucing dan kegiatan edukasi; serta komunitas lokal seperti Komunitas Pecinta Kucing Bandung Raya (KPK), D’Jaboers Cat Lovers Community, dan Tenggarong Cat Lovers (TCL), yang aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan kucing di wilayahnya masing-masing. Selain itu, terdapat pula Komunitas Pecinta Kucing Jakarta (KPKJ) dan Komunitas Pecinta Kucing Kampung Indonesia, yang fokus pada pelindungan dan perawatan kucing domestik serta kampung.

    Di Kota Palu, komunitas pecinta kucing juga semakin berkembang dengan munculnya Feed Not Bomb Palu, sebuah gerakan sosial yang dimulai sejak Januari 2025. Komunitas ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan kucing-kucing perkotaan yang sering kali terabaikan dan hidup dalam kondisi yang tidak layak. Mengusung filosofi bahwa memberi makan dan merawat hewan jalanan adalah bentuk nyata dari kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup, Feed Not Bomb Palu aktif mengajak masyarakat untuk berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi hewan, khususnya kucing.

    sumber : instagram.com/feednotbomb.palu

    Sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu memiliki dinamika perkotaan yang terus berkembang, dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat dan berbagai tantangan sosial yang menyertainya. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah banyaknya hewan jalanan yang terlantar tanpa perawatan, termasuk kucing-kucing liar yang kerap mengalami kelaparan, penyakit, dan kurangnya tempat berlindung. Melihat kondisi tersebut, Feed Not Bomb Palu berinisiatif untuk tidak hanya memberikan bantuan berupa makanan bagi kucing jalanan, tetapi juga melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kepedulian terhadap hewan.

    Melalui berbagai kegiatan seperti pemberian makan rutin, program sterilisasi untuk mengendalikan populasi kucing liar, serta penyuluhan mengenai cara merawat dan memperlakukan kucing dengan baik, komunitas ini berusaha menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Mereka juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dokter hewan, relawan, serta pecinta kucing lainnya, untuk memastikan bahwa kucing-kucing jalanan mendapatkan perhatian dan perawatan yang layak.

    sumber : Google.com

    Lebih dari sekadar komunitas penyayang kucing, Feed Not Bomb Palu membawa semangat perubahan sosial yang lebih luas. Dengan mengedepankan prinsip bahwa kebaikan bisa dimulai dari hal kecil, seperti memberi makan dan merawat kucing jalanan, mereka berharap dapat menanamkan budaya kepedulian yang semakin meluas di Kota Palu. Gerakan ini bukan hanya sekadar tren, tetapi sebuah langkah konkret untuk menciptakan lingkungan kota yang lebih harmonis, di mana manusia dan hewan dapat hidup berdampingan dengan saling menghormati. Seiring berjalannya waktu, diharapkan komunitas ini terus berkembang, menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut ambil bagian dalam aksi-aksi nyata yang membawa dampak positif bagi kesejahteraan hewan dan masyarakat secara keseluruhan.

    Keberadaan kucing di kota memiliki dampak yang kompleks, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun psikologis. Sementara sebagian masyarakat menikmati kehadiran kucing dan mendapatkan manfaat dari interaksi dengan mereka, sebagian lainnya masih menganggapnya sebagai gangguan. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat, komunitas pecinta hewan, dan pemerintah.

    “Kucing bukanlah hama kota, tetapi bagian dari ekosistem perkotaan yang membutuhkan perhatian, perlindungan, dan kebijakan yang lebih baik.”

    Moh. Fachry Ramadhan,

    24 Tahun, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia.

    Seorang mahasiswa tingkat akhir yang antusias dalam mengeksplorasi hal-hal baru, khususnya dalam desain tipografi. Gemar membaca, menikmati musik yang selaras dengan perkembangan zaman, serta senang berkeliling untuk tetap produktif.

  • “Rakesh Mengemas 13 Fragmen Emosi dalam Satu Album dengan tajuk “Alter Ego”

    EDITORIAL PICK


     

    Rakesh Mengemas 13 Fragmen Emosi dalam Satu Album dengan tajuk “Alter Ego”

    Music

    01.03.2025

    Dalam album ini, Rakesh merangkai fragmen emosi ke dalam 13 trek yang mencerminkan perjalanan batin penuh kontradiksi. Dari ledakan amarah hingga momen reflektif yang sunyi, setiap lagu hadir sebagai kepingan dari identitas ganda yang mereka bawa. Tanpa terjebak dalam satu formula, mereka membiarkan emosi berkembang secara organik, menciptakan lanskap sonik yang dinamis.

       words : atmospherenetwork

    Teks : Wahyu Ryan

    Gambar : Rakesh, Charles Edward

    Band alternative/modern rock asal Palu ini tidak hanya sekadar menawarkan musik, tetapi juga membawa visi yang lebih besar—membuktikan bahwa eksplorasi dalam bermusik bisa lahir dari mana saja, tanpa harus terikat oleh batasan geografis atau dominasi pusat industri.

    sumber : instagram/rakesh

    Sebuah langkah awal yang tidak hanya berfungsi sebagai perkenalan terhadap identitas musikal mereka, tetapi juga membuka ruang eksplorasi yang luas bagi pendengar untuk menyelami beragam dinamika emosi yang terangkai dalam 13 komposisi penuh karakter. Fikri Tsani (vokal), Riskan Ahmad (gitar), Ais Tompoh (drum) dan Berly (key) dengan keberanian untuk bereksperimen, album ini lahir sebagai cerminan dari berbagai fase perjalanan kreatif yang telah dilalui oleh Rakesh dalam membangun ekspresi musik mereka.

    Sebagaimana judulnya, “Alter Ego” menawarkan pengalaman mendengarkan yang lebih dari sekadar sajian musik, tetapi juga ia adalah sebuah perjalanan sonik yang menggali berbagai dimensi kepribadian Rakesh sebagai entitas musikal yang enggan terkungkung oleh batasan konvensional. Tidak ada formula baku yang mendikte arah musik dalam album ini, setiap lagu berdiri dengan identitasnya masing-masing, menciptakan sebuah mozaik ekspresi yang kaya akan warna, tekstur, dan emosi yang terus berubah dari satu trek ke trek berikutnya.

    Pendekatan yang diterapkan Rakesh dalam merangkai album ini terasa begitu organik, seolah membiarkan setiap lagu berkembang secara alami tanpa harus tunduk pada satu aturan tertentu yang membatasi kebebasan artistik mereka. Beberapa lagu hadir dengan energi yang meledak-ledak, menyalurkan intensitas penuh melalui aransemen yang agresif dan sarat distorsi, sementara yang lain justru membangun atmosfer reflektif yang lebih subtil, mengajak pendengar untuk masuk ke dalam ruang perenungan yang lebih dalam.

    Namun, daya tarik utama dari album ini tidak hanya terletak pada eksplorasi lanskap suara yang luas dan berani, melainkan juga pada cara Rakesh meramu narasi dalam setiap komposisinya. Lirik-lirik yang mereka tulis tidak sekadar menjadi pelengkap dari musik yang mereka sajikan, tetapi juga menjadi medium ekspresi yang mengangkat tema-tema mendalam, mulai dari konflik batin yang tak kunjung usai, pencarian identitas di tengah kompleksitas kehidupan, hingga pergulatan emosional dengan realitas yang terkadang begitu sulit untuk diterima.

    Sebagai band yang lahir dari Palu, Rakesh menunjukkan semangat eksploratif yang begitu kuat, membuktikan bahwa musik alternatif tidak hanya bisa tumbuh dan berkembang di pusat-pusat industri musik besar, tetapi juga memiliki ruang yang luas untuk mekar dan bersinar di luar batas kota-kota metropolitan. Dengan “Alter Ego”, Rakesh tidak hanya menghadirkan sebuah album debut yang solid, tetapi juga menyampaikan sebuah pernyataan yang tegas bahwa mereka siap melangkah lebih jauh, membawa musik mereka ke panggung yang lebih luas, dan memperkenalkan identitas mereka kepada lebih banyak telinga yang haus akan eksplorasi sonik yang segar dan autentik.

    Dengan aransemen yang matang, visi artistik yang jelas, serta keberanian untuk menggali berbagai spektrum emosi dalam musik mereka, Alter Ego menjadi sebuah awal yang menjanjikan bagi perjalanan panjang Rakesh dalam industri musik. Album ini kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital, mengundang para pendengar untuk masuk ke dalam dunia yang telah mereka bangun dengan penuh ketelitian dan dedikasi.
    Bagi mereka yang mencari pengalaman mendengarkan musik yang tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menawarkan perjalanan emosional yang kaya dan bervariasi, “Alter Ego” adalah sebuah undangan untuk menyelami berbagai lapisan emosi dalam balutan modern rock yang penuh energi, jujur, dan tanpa kompromi.


    Lebih dari itu, album ini seakan menjadi pemancing bagi para musisi khususnya mereka yang berasal dari Palu untuk terus konsisten, melahirkan karya, dan melakukan berbagai terobosan dalam musik. Sebab, lebih dari sekadar eksistensi pribadi, berkarya adalah upaya untuk mewariskan sesuatu bagi generasi berikutnya, menjadi jejak yang bisa diikuti dan bahan bakar bagi teman-teman yang baru memulai perjalanan mereka di dunia musik di kota Palu.

    Akhir kata, kami bangga memiliki Rakesh dan band-band asal Palu yang tetap konsisten hingga hari ini. Semoga semangat kalian terus menyala, membawa lebih banyak suara dari Tana Kaili hingga menggema ke semua penjuru negeri.[clap]

  • Metafora Wajah Baru dalam Lanskap Urban, Palu sedang bergerak—bukan sekadar berpindah

    COLUMN


     

    “Metafora Wajah Baru dalam Lanskap Urban, Palu sedang bergerak—bukan sekadar berpindah”

    Moh. Wahid, seorang pemerhati kota dan alumni dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota di salah satu universitas dikota Palu menuliskan keresahannya tentang perubahan yang tengah terjadi di Palu. Baginya kota ini tak hanya bergerak, tetapi juga mendefinisikan ulang identitasnya. Namun, di balik kemajuan yang dikejar, muncul pertanyaan apakah semua ini benar-benar membawa kota ke arah yang lebih baik? apakah ruang-ruang yang tercipta benar-benar mencerminkan apa yang dibutuhkan oleh warganya ?

       words : atmospherenetwork

    Column

    17.02.2025

    Dalam lima tahun terakhir, sebuah gelombang disrupsi perlahan-lahan menggeser paradigma lama, membuka jalan bagi individu untuk menemukan dan mengenali potensinya.

    Kota Palu ditahap berkembang dalam denyut perubahan yang terasa hingga ke akar sosialnya. Wali Kota Hardianto Rasyid, dengan visi Palu Mantap Bergerak, tidak hanya menjadi nahkoda dalam arus perubahan ini, tetapi juga arsitek bagi sebuah kebangkitan kolektif yang meredefinisi cara masyarakat berinteraksi dengan kotanya. Salah satu manifestasi paling kentara dari transformasi ini terletak pada ruang-ruang hijau yang mulai bermunculan yaitu taman kota. Namun, lebih dari sekadar estetika yang menyegarkan mata, taman telah menjadi simbol politik urban yang sarat makna. Keputusan Wali Kota untuk menjadikan taman sebagai elemen sentral pembangunan kota bukan sekadar sentuhan artistik, melainkan strategi cermat yang menyatukan ekologi, sosialitas, dan identitas urban dalam satu tarikan garis.

    Taman sebagai Metafora Kekuasaan dan Peradaban

    John Ruskin, seorang pemikir sosial abad ke-19, pernah menulis, “Ukuran dari setiap peradaban besar adalah kotanya; dan ukuran kehebatan sebuah kota dapat dilihat dari kualitas ruang publiknya, taman dan alun-alunnya.” Pandangan ini menyoroti bahwa taman bukan hanya sebidang lahan dengan vegetasi rapi, melainkan ruang yang menghidupkan interaksi dan emosi, tempat masyarakat membangun hubungan dengan kotanya—bukan sebagai entitas pasif, tetapi sebagai bagian aktif dari ekosistem urban.

    Galen Cranz, profesor Arsitektur Lanskap di UC Berkeley, menegaskan bahwa taman memiliki hubungan erat dengan politik. Sebuah taman bisa menjadi cermin kekuasaan, sebuah alat kontrol sosial yang menciptakan batas-batas subtil antara kelas, atau bahkan simbol perlawanan terhadap status quo. Maka, ketika Palu mulai memoles wajahnya dengan ruang-ruang hijau yang semakin inklusif, ada pesan kuat yang ingin disampaikan: kota ini sedang membangun peradaban yang lebih manusiawi.

    Elektabilitas, Romantisme Kota, dan Narasi Pembangunan Berkelanjutan
    Pilihan Wali Kota Hardianto untuk mengadopsi taman sebagai instrumen perubahan bukanlah langkah sporadis, tetapi bagian dari narasi politik yang lebih luas. Taman adalah ruang yang mampu merangkul semua lapisan masyarakat—dari anak-anak yang berlarian di rerumputan hingga para lansia yang menghabiskan sore dengan percakapan ringan. Dalam lanskap politik, ini adalah strategi elektoral yang halus namun efektif—memastikan bahwa setiap individu merasa memiliki bagian dari kota yang mereka tinggali.

    Lebih jauh lagi, proyek ini tidak hanya berhenti pada romantisme urban yang sekadar menyenangkan mata, tetapi juga menyentuh aspek-aspek keberlanjutan. Dengan menggandeng para arsitek dan perencana kota, Palu tidak hanya mengukir perubahan jangka pendek, tetapi merancang strategi panjang menuju kota yang lebih resilien, ini adalah langkah yang tidak hanya berorientasi pada hari ini, tetapi juga menatap masa depan dengan optimisme. Dalam spektrum luas pembangunan kota, taman telah berevolusi dari sekadar ruang hijau menjadi alat komunikasi sosial, politik, dan budaya.

    Kota Palu, dengan segala geliat transformasinya, sedang menulis ulang narasi urban yang lebih segar dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kini, masyarakat bukan lagi sekadar penghuni kota, tetapi juga aktor utama dalam kisah pertumbuhannya.

    MOH. WAHID, 27 Tahun

    Kota Parigi, Sulawesi Tengah, Indonesia


    Pekerja trans-disiplin, penggemar sepeda, musik & membahas berbagai hal di sekitar dengan sudut pandang yang reflektif. Saya percaya bahwa setiap cerita punya makna yang patut diungkap dan dibagikan.