COLUMN


 

"Metafora Wajah Baru dalam Lanskap Urban, Palu sedang bergerak—bukan sekadar berpindah"

Moh. Wahid, seorang pemerhati kota dan alumni dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota di salah satu universitas dikota Palu menuliskan keresahannya tentang perubahan yang tengah terjadi di Palu. Baginya kota ini tak hanya bergerak, tetapi juga mendefinisikan ulang identitasnya. Namun, di balik kemajuan yang dikejar, muncul pertanyaan apakah semua ini benar-benar membawa kota ke arah yang lebih baik? apakah ruang-ruang yang tercipta benar-benar mencerminkan apa yang dibutuhkan oleh warganya ?

   words : atmospherenetwork

Column

17.02.2025

Dalam lima tahun terakhir, sebuah gelombang disrupsi perlahan-lahan menggeser paradigma lama, membuka jalan bagi individu untuk menemukan dan mengenali potensinya.

Kota Palu ditahap berkembang dalam denyut perubahan yang terasa hingga ke akar sosialnya. Wali Kota Hardianto Rasyid, dengan visi Palu Mantap Bergerak, tidak hanya menjadi nahkoda dalam arus perubahan ini, tetapi juga arsitek bagi sebuah kebangkitan kolektif yang meredefinisi cara masyarakat berinteraksi dengan kotanya. Salah satu manifestasi paling kentara dari transformasi ini terletak pada ruang-ruang hijau yang mulai bermunculan yaitu taman kota. Namun, lebih dari sekadar estetika yang menyegarkan mata, taman telah menjadi simbol politik urban yang sarat makna. Keputusan Wali Kota untuk menjadikan taman sebagai elemen sentral pembangunan kota bukan sekadar sentuhan artistik, melainkan strategi cermat yang menyatukan ekologi, sosialitas, dan identitas urban dalam satu tarikan garis.

Taman sebagai Metafora Kekuasaan dan Peradaban

John Ruskin, seorang pemikir sosial abad ke-19, pernah menulis, “Ukuran dari setiap peradaban besar adalah kotanya; dan ukuran kehebatan sebuah kota dapat dilihat dari kualitas ruang publiknya, taman dan alun-alunnya.” Pandangan ini menyoroti bahwa taman bukan hanya sebidang lahan dengan vegetasi rapi, melainkan ruang yang menghidupkan interaksi dan emosi, tempat masyarakat membangun hubungan dengan kotanya—bukan sebagai entitas pasif, tetapi sebagai bagian aktif dari ekosistem urban.

Galen Cranz, profesor Arsitektur Lanskap di UC Berkeley, menegaskan bahwa taman memiliki hubungan erat dengan politik. Sebuah taman bisa menjadi cermin kekuasaan, sebuah alat kontrol sosial yang menciptakan batas-batas subtil antara kelas, atau bahkan simbol perlawanan terhadap status quo. Maka, ketika Palu mulai memoles wajahnya dengan ruang-ruang hijau yang semakin inklusif, ada pesan kuat yang ingin disampaikan: kota ini sedang membangun peradaban yang lebih manusiawi.

Elektabilitas, Romantisme Kota, dan Narasi Pembangunan Berkelanjutan
Pilihan Wali Kota Hardianto untuk mengadopsi taman sebagai instrumen perubahan bukanlah langkah sporadis, tetapi bagian dari narasi politik yang lebih luas. Taman adalah ruang yang mampu merangkul semua lapisan masyarakat—dari anak-anak yang berlarian di rerumputan hingga para lansia yang menghabiskan sore dengan percakapan ringan. Dalam lanskap politik, ini adalah strategi elektoral yang halus namun efektif—memastikan bahwa setiap individu merasa memiliki bagian dari kota yang mereka tinggali.

Lebih jauh lagi, proyek ini tidak hanya berhenti pada romantisme urban yang sekadar menyenangkan mata, tetapi juga menyentuh aspek-aspek keberlanjutan. Dengan menggandeng para arsitek dan perencana kota, Palu tidak hanya mengukir perubahan jangka pendek, tetapi merancang strategi panjang menuju kota yang lebih resilien, ini adalah langkah yang tidak hanya berorientasi pada hari ini, tetapi juga menatap masa depan dengan optimisme. Dalam spektrum luas pembangunan kota, taman telah berevolusi dari sekadar ruang hijau menjadi alat komunikasi sosial, politik, dan budaya.

Kota Palu, dengan segala geliat transformasinya, sedang menulis ulang narasi urban yang lebih segar dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kini, masyarakat bukan lagi sekadar penghuni kota, tetapi juga aktor utama dalam kisah pertumbuhannya.

MOH. WAHID, 27 Tahun

Kota Parigi, Sulawesi Tengah, Indonesia


Pekerja trans-disiplin, penggemar sepeda, musik & membahas berbagai hal di sekitar dengan sudut pandang yang reflektif. Saya percaya bahwa setiap cerita punya makna yang patut diungkap dan dibagikan.